Bludder Tape merupakan salah satu kue indonesia yg rasanya sangat unik...
rahasia kesuksesannya, gunakan tape yg betul- betul manis...
Rabu, 21 Maret 2012
Hotel Pension
Hotel ini secara fisik lebih mirip apartemen daripada Hotel. Mengapa? Karena dibalik pintu masuknya yg sangat berat tidak ada resepsionis yg senantiasa menyungging senyum dan menyapa Selamat Datang.
Yang ada hanyalah sebuah pintu yang terkunci dan sebuah lift, menuju kamar kamar di lantai atas. Tetapi pada paruh musim panas, dua minggu pertama kami di Copenhagen, Hotel Pension menjadi pilihan yg paling tepat. Setelah masa menginap kami di Hotel Hellerup yg nyaman dan mahal telah habis, Hotel ini cukup nyaman dengan kamar suit yg lumayan luas. Hitungan menginap pun dibuat per 2 minggu dan disamping itu, mendapat makan pagi dan malam gratis pula.
Jadi cukup ekonomis untuk rombongan besar seperti kami. Kami hanya berharap setelah ini rumah sewaan yang sesuai akan segera kami dapatkan.
Pada saat kami mengurus administrasi dgn si pemilik, Jorge namanya, dia mengatakan bersama keluarganya tinggal di lantai 3, dan berpesan agar sampah kami buang sendiri di tempat pembuangan di belakang gedung.
Dua kamar yang kami sewa akan dibersihkan seminggu sekali pada hari yg berbeda. Dia menyerahkan 2 set kunci untuk masing2 kamar. Satu kunci untuk pintu gang dan satu lagi tentunya kunci kamar. Kemudian setelah berbasa basi sedikit kami bersalaman karena ia akan segera pergi untuk liburan musim panas dan kemungkinan tidak akan bertemu saat kami meninggalkan hotel nanti.
Pagi berikutnya, kami menengok ke ruang makan, disana hanya ada bbrp set meja makan dengan 4 buah kursi. Dan sarapan yg tersedia sgt sederhana. Beberapa kotak susu, dan youghurt, yg kadang2 sudah kosong walaupun ditunggingkan secara maksimal. Roti bundar hangat, dan roti gandum, selai buah2an, selai coklat, dan daging iris dingin. Dua macam sereal, dan minuman hangat spt kopi,teh dan coklat.
Karena lapar, kami santap apa yg ada, sambil minum kopi susu hangat. Petugas di dapurnya hanya satu orang, seorang wanita setengah baya yg tampaknya sibuk sehingga sering mengabaikan keluhan bahwa kotak susu telah kosong atau roti bundar sudah perlu ditambahkan lagi.
Kami pun harus tertib, membersihkan meja makan setelah makan, dengan membawanya ke dapur. Sendok ditaruh dalam wadah air dan piring-piring kotor dalam bak tersendiri, dan semua itu tidak lepas dari pengamatan si petugas dapur. Dari balik kacamatanya ia menatap lamat pada cara kami menaruh peralatan makan.
Di hari-hari selanjutnya aku memandang sekeliling, melihat para peserta sarapan pagi yg sangat suka berlama lama di ruang makan dan selalu menambah isi piringnya yg telah kosong.
Aku perhatikan tidak ada satupun yg meninggalkan ruangan segera setelah makan. Setelah aku amati lagi ternyata kebanyakan dari mereka adalah golongan lanjut usia. Mungkinkah ada kaitannya dengan nama Hotel ini: P e n s i o n yg mungkin saja mmg mrpk tempat yg memfasilitasi golongan usia pensiun. Pantas saja di hari pertama kami membawa anak anak untuk sarapan, suara langkah anak-anakku yg berisik ditambah celotehannya yang memenuhi ruangan membuat mata mereka segera tertuju kepada kami dan mengamati dengan seksama.
Wajah-wajah Asia dan bahasa yang berbeda…mungkin tidak ada ide sama sekali darimana kami berasal dan bahasa apa yang kami pakai. Tapi inilah Denmark. Dalam iklim musim panas pun mereka tetap dingin dan hanya memandang dengan penuh tanda tanya. Aku pun hanya tersenyum sewaktu hadir di ruang makan setiap pagi. Terutama pada sepasang suami istri yang selalu duduk di meja pojok.
Mereka, suami istri tersebut, selalu datang paling pagi, dan baru selesai ketika dapur sudah hampir tutup. Aku merasa mereka menganggap semua yang berwajah Asia adalah orang Jepang, karena caranya menyapa kami selalu dengan membungkukan badan seperti yang dilakukan orang-orang Jepang.
Pada makan malam kami yang pertama di Hotel, ruang makan nyaris terisi penuh. Aku melihat makanan tidak disajikan dengan cara buffet, tetapi mengantri di dapur, dan Koki akan mengambilkannya untuk kami. Menu hari itu terdiri dari daging bakar, kentang rebus, saus manis yg dsiram diatas kentang, serta sayuran kol merah yang diiris lembut. Hmmm...aromanya menambah rasa lapar. Sementara salad dan kue penutup berupa apple pie diletakkan di meja.
Koki bertanya ”Kamu mau daging berapa iris?..Kentang berapa buah?..” Kemudian dengan gerakannya yang cepat..piring2 kami pun penuh terisi. Ketika aku menolak sayur kol merah, ia menatapku heran, dan berkata,”Mengapa kamu tidak suka sayuran ini...semua orang di Denmark makan sayuran ini..’katanya sambil menggeleng2kan kepalanya. Aku cuma tersenyum. Dalam hati ”Ape lu kate deh!Hihihi..”.
Tapi ketika aku akan melangkah meninggalkan dapur, Si Koki menahanku,”wait....katanya. ”I’ll make a plate for the boy..”. Oh ternyata ia ingat anakku. Semula akan kuberikan piringku ini untuk anakku kemudian aku akan kembali lagi ke dapur. Si Koki dengan sigap menaruh 4 irisan daging dan banyak kentang untuk anak laki-laki ku.”Thanks...” Aku berterimakasih,dan melangkah ke ruang makan. Ia masih sempat berkata,”Nanti piringnya dibereskan yaaa.....!”.
Sampai di meja ternyata anak-anak ku telah asyik dengan apple pie dan cream. Meja kami menjadi penuh dengan piring makan dan desert sekaligus. Memang benar dugaanku, daging bakarnya sangat empuk dengan pinggiran yang garing. Sausnya pun gurih dan manis, cocok dengan citarasa daging yg asin....Untuk sebuah makan malam gratis, kiranya peristiwa ini harus diulang kembali besok,hehehe...ogahrugi.com.
Suatu hari petugas pembersih mengetuk pintu...ternyata ia adalah wanita yg setiap hari kami jumpai di dapur saat sarapan. Di hari berikutnya saat perhitungan kami adalah hari seharusnya kamar anak-anak dibersihkan, tidak datang seorangpun juga, sementara suara penyedot debu datang dari lantai bawah, dimana seharusnya lantai bawah sudah selesai dibersihkan hari sebelumnya.
Aku memaklumi sedikit sekali tenaga kerja yang ada dan untuk itu kami harus sabar menunggu kapan giliran kamar anak-anak dibersihkan.
Untunglah kami segera mendapatkan tempat tinggal. Tahukah apa yang kuresahkan?...betapa repotnya hidup tanpa sebuah ruangan bernama dapur, dan sebuah bak bernama bak cuci piring.
Seperti yang kami tahu pemilik Hotel mmg tidak ditempat pada saat kami akan meninggalkan Hotel. Dan ternyata petugas yang mengembalikan uang deposit kami lagi-lagi wanita yang bertugas di dapur merangkap petugas yg membersihkan kamar kami. Dengan demikian aku dapat menyimpulkan betapa mahalnya tenaga manusia di negara ini.
Label:
Pengalaman
Langganan:
Postingan (Atom)